Jumat, 12 Agustus 2011

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN KONTROL PASIEN ACNE VULGARIS


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
        Acne vulgaris atau jerawat merupakan salah satu penyakit kulit yang di akibatkan oleh adanya peradangan kronik folikel pilosebasea, yang di tandai dengan adanya komedo, pustula, dan kista pada predeleksinya seperti muka, bahu, bagian atas dari esktrimitas superior, dada dan punggung (Wasistaatmadja,1999).
Acne vulgaris menjadi masalah pada hampir semua remaja. Acne minor adalah suatu bentuk akne yang ringan dan di alami oleh 18% para remaja. Gangguan ini masih dianggap sebagai proses fisiologis. 15% remaja menderita Acne major yang cukup hebat sehingga mendorong mereka untuk berobat kedokter (Wasistaatmadja, 1999).
Biasanya, akne timbul pada masa pubertas. Pada wanita insidens terbanyak terdapat pada usia 14–17 tahun, sedangkan pada laki–laki 16–19 tahun. Kligman mengatakan bahwa tidak ada seorang pun (artinya 100%) yang sama sekali tidak pernah menderita penyakit akne (Warwali, 2002).
1
 
Dari studi pendahuluan yang dilakukan di Poli Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Haji Surabaya di dapat data jumlah pengunjung selama satu tahun sebesar 7388 pengunjung dari 99 kasus.Dari 7388 pengunjung yang menderita acne vulgaris 1755 pengunjung dengan presetasi 24%. (Rekam Medik RSU Haji Surabaya, 2004). Sedangkan dari hasil penelitian yang dilakukan dipoli kulit RSUD. Dr Soetomo Surabaya bagian kosmetik empat bulan terakhir terdapat 710 pengunjung yang menderita akne vulgaris dengan jumlah pengunjung 1643.          Acne vulgaris pada pasien dewasa muda dapat menyebabkan kecacatan fisik yaitu timbulnya jaringan parut, sedangkan gangguan psikologis berupa gangguan konsep diri yaitu gambaran diri, kurang percaya diri dalam pergaulan dan lain–lain. Ketidakberhasilan pengobatan pada pasien-pasien akne adalah ketidakpatuhan terhadap terapi, imaturitas emosional, stres, biaya pengobatan, dan juga dipengaruhi oleh pengetahuan (Gold Stein, 2001).
Secara umum, ketidakpatuhan meningkatkan resiko berkembangnya masalah kesehatan atau memperburuk kesakitan yang di derita. Diperkirakan 20% pasien tidak patuh terhadap aturan pengobatan (Sarafino, 1990). Akibat dari ketidakpatuhan terhadap pengobatan sehingga akan mengakibatkan terjadinya jaringan parut yang hebat pada lesi kronik dan meradang.
Tingkat Ketidakpatuhan terbukti cukup tinggi dalam populasi medis yang kronik. Sarafino, (1990) mengatakan bahwa tingkat kepatuhan keseluruhan adalah 60%. Perilaku kepatuhan pasien terhadap pengobatan dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap pasien mengenai anjuran pengobatan yang berikan.             Dengan adanya kepatuhan berobat secara teratur di harapkan dalam waktu kurang dari 4-6 minggu lesi-lesi yang ada di wajah bisa hilang seiring dengan pergantian kulit (Gold Stein,2001).
Berdasarkan permasalahan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dengan kepatuhan kontrol pada pasien dengan acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RSU Haji Surabaya



1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas dapat ditetapkan rumusan masalah sebagai berikut: “Adakah Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Kontrol Pasien Acne Vulgaris Pada Remaja di Poli Kulit dan Kelamin RSU Haji Surabaya”.
1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
       Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RSU Haji Surabaya.
1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Mengidentifikasi pengetahuan pasien tentang acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RSU Haji Surabaya.
2.      Mengidetifikasi kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RSU Haji Surabaya.
3.      Mengidentifikasi hubungan pengetahuan dengan kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RSU Haji Surabaya.
1.4    Manfaat Penelitian
1.      Bagi Peneliti
      Merupakan pengalaman baru dalam melakukan penelitian dan mengetahui sejauhmana pengetahuan mempengaruhi kepatuhan tentang kontrol.
2.      Bagi Pendidikan.
      Sebagai bahan dokumentasi serta sebagai bahan bacaan dan juga sebagai sumber informasi.

3.      Bagi perawat.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan oleh perawat untuk meningkatkan program healt education atau konseling bagi pasien acne vulgaris.
4.      Bagi Masyarakat.
       Sebagai bahan bacaan, sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kepatuhan berobat.


















BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1        Pengertian Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengidraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga                                                                      (Notoaatmodjo,2003).
Pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan,yakni :
1.      Awareness (Kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetatahui stimulus (obyek) terlebih duhulu.
2.      Interest (Tertarik), yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
3.      Evaluation (Menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4.      Trial, dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang di kehendaki oleh stimulus.
5.      Adoption,dimana subyek telah barperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
5
 
 

2.1.2        Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif
Tingkat pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu :
1.  Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk pengetahuan dalam tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 
2.      Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat mengiterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harusdapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya. 
3.      Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipalajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang yang lain. 
4.      Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitanya satu sama lainya. 
5.      Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6.      Evaluasi (Evaluation)
Evalusi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2.1.3        Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan.
Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:  
1.       Umur
Umur adalah umur indifidu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Elisabeth,B.H.1995). Faktor umur akan menentukan pengetahuan dan sikap seseorang, jika umur seseorang semakin tua maka tingkat pengetahuan dan kekuatanya akan lebih matang dalam dan bekerja. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segikepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya (Huclok, 1996). Menurut  Lorder (1975), mengatakan bahwa semakin muda usia semakin kurang menunjukan penyesuaian diri dengan informasi yang diperoleh.
2.      Tingkat Pendidikan
Menurut YB Mantra yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuannya , sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru di perkenalkan (Kuncoroningrat, 1997).
3.      Pengalaman
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan dan pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin banyak pngalaman maka pengetahuan yang didapat seseorang semakin baik.
4.      Status Ekonomi
Status ekonomi atau penghasilan rendah akan berhubungan dengan kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau memperoleh pendidikan yang lebih tinggi                                                                           (Notoatmodjo, 2003).  
2.2    Konsep Dasar kepatuhan
2.2.1        Pengertian Kepatuhan
Kepatuhan adalah “Tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarakan oleh dokternya atau oleh yang lain” (Sarafino,1990). Sackett (1976) mendefinisikan kepatuhaan adalah sejauhmana perilaku pasien sesuai ketentuan yang diberikan oleh professional kesehatan (Neil Nevin, 2002). Kepatuhan merupakan istilah yang dipakai untuk menjelaskan ketaatan atau pasrah pada tujuan yang telah ditetapkan (Susan.B, 2002).  
2.2.2        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan
Menurut L. Grean (1980) foktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan antara lain:
1.       Faktor predisposisi mencakup pengetahuan, pendidikan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai.
2.       Faktor pendukung mencakup tersedianya sarana dan fasilitas kesehatan dan juga lingkungan.
3.       Faktor pendorong mencakup sikap petugas kesehatan, perilaku petugas kesehatan, perilaku masyarakat.
2.2.3        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan dapat dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :
1.      Pemahaman tentang instruksi.Tak seorangpun dapat mematuhi instruksi jika ia salah paham mengenai instruksi yang diberikan padanya. Ley dan Spelmen (1967) menemukan bahwa lebih dari 60% yang diwawancarai setelah bertemu dengan dokter salah mengerti tentang instruksi yang diberikan pada mereka.
2.      Kualitas interaksi, antara profesional kesehatan dan pasien merupakan bagian yang penting dalam meningkatkan keatuhan pasien.
3.      Isolasi sosial dan keluarga. Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan serta dapat menentukan tentang program pengobatan yang meraka terima. Part (1976) telah memperhatikan peran keluarga dalam pengembangan kebiasaan kesehatan dan pengajaran terhadap anak-anak mereka.
4.      Keyakinan, sikap dan kepribadian, hubungan antara professional kesehatan dan pasien, keluarga dan teman, keyakinan tentang kesehatan dan kepribadian seseorang berperan dalam menentukan respon pasien terhadap anjuran pengobatan.
       Derajat ketidakpatuhan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:
1.      Kompleksitas prosedur pengobatan.
2.      Derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan.
3.      Lamanya waktu dimana pasien harus mematuhi nasehat dokter.
4.      Apakah penyakit tersebut benar menyakitkan.
5.      Keparahan panyakit dipersepsikan  oleh pasien, bukan professional kesehatan. 
Dinicola dan Dimatteo (1984), mengusulkan lima titik rencana untuk mengatasi ketidakpatuhan adalah :
1.      Satu syarat untuk semua rencana menumbuhkan kepatuhan adalah mengembangkan tujuan kepatuhan.
2.      Perilaku sehat sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, oleh karena itu perlu dikembangkan startegi yang bukan hanya untuk mengubah perilaku, tetapi juga untuk mempertahankan perubahan tersebut.
3.      Pengontrolan perilaku seringkali tidak cukup untuk mengubah perilaku itu sendiri,faktor kognitif juga berperan penting terhadap perubahan perilaku.
4.      Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga yang lain, teman, waktu dan uang merupakan faktor-faktor penting dalam kepatuhan terhadap program medis.
5.      Dukungan dari professional kesehatan merupakan lain yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan.
2.3    Konsep Dasar Acne Vulgaris
2.3.1        Pengertian Acne Vulgaris
Acne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea  ditandai dengan adanya komedo, papula, pustula, dan kista pada daerah predeleksi seperti muka, bahu, bagian atas dari ektrimitas superior, dada dan punggung (Harahap, 2000).
2.3.2        Etiologi Acne Vulgaris
Penyebab yang pasti belum diketahui tetapi banyak faktor yang berpengaruh adalah sebagai berikut :
1.      Sebum, merupakan faktor utama penyebab timbulnya akne.
2.      Bakteria. Mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne adalah Coribacterium Acnes, Staphyloccocus Epirdemis dan Pityrosporum Oval.
3.      Heriditer, faktor ini sangat berpengaruh pada besar dan aktifitas kelenjar palit (glandula sebasea).
4.      Hormon. Hormon Androgen memegang peran penting karena kelenjar palit sangat sensitif. Hormon ini menyebabkan kelenjar palit bertambah besar dan produksi sebum meningkat.
5.      Diet. Pada penderita yang makan banyak karbohidrat dan zat lemak tak dapat dipastikan akan terjadi perubahan pada pengeluaran sebum atau komposisinya karena kelenjar lemak bukan alat pengeluaran untuk yang kita makan.
6.      Iklim. Didaerah yang mempunyai 4 musim, biasanya akne bertambah hebat pada musim dingin, sebaliknya kebanyakan membaik pada musim panas.
7.      Psikis. Pada penderita stress dan gangguan emosi dapat menyebabkan eksaserbasi akne. Mekanisme yang pasti belum diketahui.
8.      Kosmetik. Pemakaian bahan-bahan kosmetik secara terus menerus dalam waktu yang lama dapat menyebabkan suatu bentuk akne ringan yang terutama terdiri dari komedo tertutup dengan beberapa lesi papulo pustular pada pipi dan dagu.
2.3.3        Patogenesis Acne Vulgaris
Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit akne sebagai berikut :
1.      Perubahan keratinisasi dalam folikel. Keratisasi yang biasanya berlangsung longgar berubah menjadi padat sehingga sukar lepas dari saluran folikel tersebut.
2.      Produksi sebum yang meningkat, menyebabkan peningkatan unsur komedogenik dan inflamatogenik penyebab terjadinya lesi akne.
3.      Terbentuknya fraksi asam lemak bebas penyebab tejadinya proses inflamasi folikel.
4.      Peningkatan jumlah flora folikel (propionicbacterium acnes) yang berperan dalam proses kemotatik inflamasi serta pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum.
5.      Terjadinya respon hospes berupa pembentukan circulating anti bodies yang memperberat akne (Wasistaatmadja,1999).     
2.3.4        Gejala Klinik Acne Vulgaris
Bentuk lesi acne vulgaris  adalah polimorf. Lesi yang khas ialah komedo. Bila terjadi peradangan akan terbentuk papula, pustula, nodul, dan kista. Bila sembuh, lesi dapat meninggalkan eritema dan hiperpigmentasi pasca inflamasi, bahkan dapat terbentuk sikatrik dan keloid (Harahap,2000). 
2.3.5        Penatalaksanaan Acne Vulgaris
Penatalaksanaan acne vulgaris meliputi usaha untuk mencegah terjadinya erupsi (preventif) dan usaha untuk menghilangkan jerawat (kuratif). Kedua usaha ini harus dilakukan secara bersamaan mengingat bahwa kelainan ini terjadi akibat pengaruh berbagai faktor (multifaktorial), baik faktor internal (ras, familial, hormonal) maupun faktor eksternal (makanan, musim, stress). Pencegahan acne vulgaris dengan cara :
1.      Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi sebum dengan cara: a) Diet rendah lemak dan karbohidrat, b) Melakukan perawatan kulit secara teratur.
2.      Menghindari faktor pemicu terjadinya akne, dengan cara: a) Hidup teratur,sehat, istirahat cukup, olah raga, hindari stress, b) Penggunaan kosmetik secukupnya, c) Menghindari polusi debu, pemencetan lesi secara sistemik.
3.      Memberikan informasi tentang penyebab akne, cara pencegahan, lama pengobatan serta prognosisnya.
2.3.6        Pengobatan Acne Vulgaris
      Pengobatan akne dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain
A.    Pengobatan Topikal. 
Pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan,dan mempercepat  peyembuhan lesi. Obat topikal terdiri atas:
1.      Bahan iritan yang dapat mengelupaskan kulit. Misal: sulfur (4-8%), asam salisilat (2-5%), resosinol (1-5%), dan lain-lain. Akhir-akhir ini digunakan asam alfa hidroksi (AHA), misal: asam glikolat (3-8%).
2.      Antibiotik topikal yang dapat mengurangi jumlah mikroba dalam folikel yang berperan dalam etyiopagenesis acne vulgaris, misal: oksitetrasiklin (1%), eritromisin (1%), klindamisin fosfat (1%).
3.      Anti peradangan topikal, salep atau krim kortikosteroid kekuatan ringan atau sedang (hidrokortison 1-2%).
4.      Lainya, misal: etil laktat (10%) untuk menghambat pertumbuhan jasad renik.
B.     Pengobatan Sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktifitas jasad renik disamping dapat juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebum, mempengaruhi keseimbangan hormonal. Golongan obat sistemik terdiri dari :
1.      Anti bakteri sistemik, tetrasiklin (250mg-1,0 mg/hari), eritomisin                      (4 x  250 mg/hari), doksisiklin (50 mg/hari), trimetropin (3 x 100 mg/hari).
2.      Obat hormonal untuk menekan produksi androgen dan secara kompetitif menduduki reseptor organ target dikelenjar sebasea, misal: estrogen                 (50 mg/hari selama 21 hari dalam sebulan) atau anti androgen siproteron asetat (2 mg/hari). Kortikosteroid sistemik diberikan untuk menekan peradangan dan menekan sekresi kelenjar adrenal, misal: prednison (7,5 mg/hari) atau deksametason (0,25-0,5 mg/hari).
3.      Vitamin A dan retanoid oral. Vitamin A digunakan sebagai antikeratisasi (50.000 ui-150.000 ui/hari) sudah jarang digunakan sebagai obat akne karena efek sampingnya. Isotretinoin (0,5-1 mg/kg/bb/hari) merupakan derifat retinoid yang menghambat produksi sebum sebagai pilihan pada akne nodukstik atau konglobata yang tidak sembuh dengan obat lain.
4.      Obat lainnya, misal: anti inflamasi nonsteroid ibuprofen (600mg/hari), dapson (2 x 100 mg/hari), seng sulfat (2 x 200 mg/hari).
                                                                    (Harahap, 2000).
C.     Bedah Kulit.
Tindakan bedah kulit kadang-kadang diperlukan untuk memperbaiki jaringan parut akibat acne vulgaris yang meradang dan sering menimbulkan jaringan parut, baik yang hipertrofik maupun yang hipotrofik. Jenis bedah kulit yang dipilih disesuaikan dengan macam dan kondisi jaringan parut yang terjadi. Macam-macam bedah kulit:
1.      Bedah skapel dilakukan untuk meratakan jaringan parut yang menonjol atau melakukan eksisi elips pada jaringan parut hipotrofik yang dalam.
2.      Bedah listrik dilakukan pada komedo tertutup untuk mempermudah pengeluaran sebum atau pada nodula-kistik untuk drainase cairan isi yang dapat mempercepat penyembuhan.
3.      Bedah kimia dengan asam triklor asetat/fenol untuk meratakan jaringan parut yang berbenjol.
4.      Bedah beku dengan bubur CO2 beku atau N2 cair untuk mempercepat penyembuhan radang.
5.      Demabrasi untuk meratakan jaringan parut hipo dan hipertrofi pasca akne yang luas.
(Wasistaatmadja,1999).
2.4    Kerangka Konsep
Pasien acne
vulgaris
 
 

              
 


















                                                                 




                     Keterangan:
                     
                     Diteliti             :

                     Tidak diteliti   : 









BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1      Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel termasuk efek diobservasi sekaligus berdasarkan keadaan variabel pada saat itu (pengumpulan data) (Notoaatmodjo, 2002).

3.2      Populasi, Sampel, Besar Sampel, Teknik Pengambilan Sampling
3.2.1        Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien acne vulgaris yang berkunjung di poli kulit dan kelamin RSU Haji Surabaya. Besar populasi 60 pasien pada bulan Mei 2005.
3.2.2        Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien acne vulgaris yang datang berobat, yang telah memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.      Pasien Acne vulgaris dengan usia 12 – 21 tahun.
2.      Bersedia menjadi respondent.
3.      Pasien dapat membaca dan menulis.
4.      Lama sakit minimal 4 bulan.


17
 
 

 17
 
17
 
3.2.3 Besar Sampel
Dalam menentukan besar sampel yang diteliti, peneliti menggunakan rumus sederhana sebagai berikut :
n  =
                                                                                   
Keterangan :
N   = Besar populasi.
n    = Besar sampel.
d    =  Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0.05).
                                                                    (Notoatmodjo, 2002).
    
                         60
n = 
             1 + 60 x 0.0025
 

                        60
n = 
                   1 + 0.15
                       60
n = 
                     1. 15
                     
n =  52 orang.
            
Sehubungan dengan keterbatasan waktu dan biaya maka besar sampel pada penelitian ini adalah 20 responden.
3.2.3        Teknik Pengambilan Sampling
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan menggunakan purposive sampling adalah suatu teknik penetapan sampling sample dengan cara memilih sample diantara populasi sesuai dengan kehendak peneliti, sehingga sample tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya.
3.3      Variabel Penelitian
Variabel independent atau variabel bebas pada penelitian ini adalah Pengetahuan dan variabel dependent atau variabel tergantung pada penelitian ini adalah Kepatuhan kontrol.
3.4      Definisi Operasional
Variabel

Definisi operasional

Kategori
Skala
Alat ukur
Skor
 Pengetahuan
Segala sesuatu yang diketahui responden tentang akne meliputi: pengertian, gejala, penyebab, manfaat berobat.
Baik
Cukup
Kurang
Ordinal
Quesioner
Baik:
76-100 %
Cukup:
56-75 %
Kurang:
< 55 %

Kepatuhan

Kepatuhan pasien akne terhadap anjuran dokter untuk datang kontrol 4 kali selama 4 bulan terakhir yang di lihat dari lembar kontrol pasien pada saat datang berobat kepoli.
Patuh: jika pasien datang 4 kali dalam 4 bulan
Kurang patuh: jika pasien datang 2-3 kali dalam 4 bulan
Tidak patuh: jika pasien datang 1kali dalam 4 bulan
Ordinal
Observasi
Patuh:  skor 3
Kurang patuh:  skor 2
Tidak patuh:  skor 1

Umur

Umur adalah masa hidup responden yang dihitung mulai lahir sampai sekarang ini.
Remaja awal :12-14 tahun.
Remaja tengah:
15-17 tahun.
Remaja akhir: 18-21 tahun.
Nominal
Quesioner

Pendidikan

Pendidikan formal yang pernah dijalani oleh responden.
SD,SLTP
SLTA
D3,PT
Ordinal
Quesioner
SD,SLTP skor:1
SLTA skor:2
D3,PT skor:3


3.5      Waktu Dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 23 Juni 2005 sampai dengan 23 Juli 2005 di Poli Kulit dan Kelamin RSU Haji Surabaya.

3.6      Alat dan Cara Pengumpulan Data.
Alat dan cara pengumpulan data yang digunakan adalah quesioner dan observasi. Sebelum mengisi quesioner, responden mengisi informed consent dan menandatanginya sebagai bukti menjadi responden, kemudian responden mengisi quesioner secara bebas dan dikumpulkan.
3.7      Analisa Data
Data yang sudah terkumpul melalui quesioner yang telah diisi oleh responden segera diediting untuk melihat kualitas pengisian data dalam quesioner selanjutnya diberi kode dan ditabulasi dan di buat table distribusi kemudian di tulis dalam bentuk narasi dan prosentase, alternatif jawaban benar diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor 0, hasil yang di dapat dari alternatif  jawaban diubah dalam bentuk prosentase sebagai berikut: 
Baik       : 76%- 100%
Cukup    : 56%- 75%
Kurang   : < 55%     
 Hasil pengolahan data tersebut diinterprestasikan dengan menggunakan rumus Spearman Rank. Rumus yang digunakan sebagai berikut:

                            6 Σb12
Rs =  1 –              
                 n(n²–1)

       

Keterangan :
Rs = Koefisien korelasi spearman rank.
bi = Besar sampel.
n = Selisih antara variabel x dan y.
Berdasarkan hasil perhitungan rho tersebut kemudian dibandingkan dengan tabel nilai-nilai rho. Jika nilai rho > besar dari pada nilai rho tabel maka Ho ditolak yang berarti ada hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan berobat pasien acne vulgaris (Sugiyono, 1999).




























 
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1  Gambaran umum
Penelitian ini dilakukan di Unit Rawat Jalan (URJ) Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya. Poli Kulit Dan Kelamin berada di lantai 2, memberikan pelayanan mulai jam 08.00-12.00 Wib. Pelayanan diberikan oleh 3 orang dokter spesialis dan 1 orang Perawat lulusan D3 keperawatan. 
4.2  Hasil penelitian
Data dari 20 responden yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dikelompokan pada beberapa parameter sehingga di dapatkan hasil sebagai berikut:
4.1.1 Data umum
1. Umur
Dari hasil penelitian didapatkan data pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RS Haji Surabaya yang berumur antara 15 – 17 tahun 1 orang (5 %), dan yang berumur antara 18 – 21 tahun 19 orang (95 %), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
          Tabel 4.1  Distribusi umur Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Umur
Frekuensi
Persentase
12-14 tahun
15-17 tahun
18-21 tahun
0
1
19
0
5
95
Jumlah
20
100%


22
 
 

2. Jenis kelamin
Dari hasil penelitian didapatkan data pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RS Haji Surabaya seluruhnya berjenis kelamin perempuan sebanyak 20 orang (100%).
3. Pendidikan
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pasien acne vulgaris yang memiliki latar belakang pendidikan SLTA 12 orang (60%), dan yang berpendidikan  SLTP 1 orang (5 %), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.2 Distribusi pasien berdasarkan tingkat pendidikan di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Pendidikan
Frekuensi
Persentase
SLTP
SLTA
D3, PT
1
12
7
5 %
60 %
35 %
Jumlah
20
100 %


4.1.2 Data khusus
1. Pengetahuan
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pasien acne vulgaris yang memiliki pengetahuan cukup 10 orang (50 %), dan yang berpengetahuan baik 3 orang (15%), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.3 Distribusi pengetahuan pasien di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Pengetahuan
Frekuensi
Persentase
Baik
Cukup
Kurang
3
10
7
15 %
50 %
35 %
Jumlah
20
100 %


Dari hasil penelitian menunjukan umur pasien acne vulgaris antara 15-17 tahun memiliki pengetahuan cukup 1 orang (100 %), dan umur 18-21 tahun memiliki pengetahuan baik 3 orang (16 %), pengetahuan cukup 9 orang (47 %), pengetahuan kurang 7 orang (19 %), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
          Tabel 4.4 Tabulasi silang umur dengan pengetahuan Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Umur
Pengetahuan
Total
Baik
Cukup
Kurang
f
%
f
%
f
%
f
%
12-14 tahun
15-17 tahun
18-21 tahun
0
0
3
0
0
16
0
1
9
0
100
47
0
0
7
0
0
37
0
1
19
0
5
95
Jumlah
3
15
10
50
7
35
20
100
Dari hasil penelitian menunjukan perempuan yang memiliki pengetahuan baik 3 orang (15%), pengetahuan cukup 10 orang (50%), dan yang berpengetahuan kurang 7 orang (20%), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.5 Tabulasi silang jenis kelamin dengan pengetahuan Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Jenis kelamin
Pengetahuan
Total
Baik
Cukup
Kurang
f
%
f
%
f
%
f
%
Laki- laki
Perempuan
0
3
0
15
0
10
0
50
0
7
0
35
0
20
0
100
Jumlah
3
15
10
50
7
35
20
100


Dari hasil penelitian menunjukan pasien yang berpendidikan SLTP memiliki pengetahuan cukup 1 orang (100%), pasien yang berpendidikan SLTA memiliki pengetahuan baik 1orang (8%), pengetahuan cukup 6 orang (50%), pengetahuan kurang 5 orang (42%), dan yang berpendidikan D3, PT memiliki pengetahuan baik 2 orang (29%), pengetahuan cukup 3 orang (42%), pengetahuan kurang 2 orang (29%), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:



Tabel 4.6 Tabulasi silang pendidikan dengan pengetahuan Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Pendidikan
Pengetahuan
Total
Baik
Cukup
Kurang
f
%
f
%
f
%
f
%
SLTP
SLTA
D3, PT
0
1
2
0
8
29
1
6
3
100
50
42
0
5
2
0
42
29
1
12
7
5
60
35
Jumlah
3
15
10
65
7
35
20
100

2. Kepatuhan
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pasien acne vulgaris yang kurang patuh kontrol 13 orang (65%), dan yang patuh kontrol 3 orang (15 %), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
       Tabel 4.7 Distribusi kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Kepatuhan
Frekuensi
Persentase
Patuh
Kurang patuh
Tidak patuh
3
13
4
15 %
65 %
20 %
Jumlah
20
100 %

Dari hasil penelitian menunjukan pasien acne vulgaris yang berumur antara 15-17 tahun memiliki kepatuhan kontrol kurang 1 orang (100 %), dan umur 18-21 tahun memiliki kepatuhan kontrol  baik 3 orang (16 %), kepatuhan kontrol kurang 12 orang (63 %), tidak patuh kontrol 4 orang (21 %), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:









Tabel 4.8 Tabulasi silang umur dengan kepatuhan Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Umur
Kepatuhan
Total

Patuh
Kurang patuh
Tidak patuh

f
%
f
%
f
%
f
%

12-14 tahun
15-17 tahun
18-21 tahun
0
0
3
0
0
16
0
1
12
0
100
63
0
0
4
0
0
21
0
1
95
0
5
95
Jumlah
3
15
13
65
4
20
20
100

Dari hasil penelitian menunjukan perempuan yang patuh kontrol 3 orang (15%), kurang patuh kontrol 13 orang (65%), dan tidak patuh kontrol 4 orang (20%), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.9 Tabulasi silang jenis kelamin dengan kepatuhan kontrol Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Jenis kelamin
Kepatuhan
Total
Patuh
Kurang patuh
Tidak patuh
f
%
f
%
f
%
f
%
Laki- laki
Perempuan
0
3
0
15
0
13
0
65
0
4
0
20
0
20
0
100
Jumlah
3
15
13
65
4
20
20
100

Dari hasil penelitian menunjukan pasien yang berpendidikan SLTP yang patuh kontrol 1 orang (100%), pendidikan SLTA yang patuh kontrol 2 orang (17%), kurang patuh kontrol 7 orang (58%), tidak patuh kontrol 3 orang (25%), pendidikan D3, PT patuh kontrol 1 orang (14%), kurang patuh kontrol 15 orang (72%), tidak patuh kontrol 1 orang (14%), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:



         Tabel 4.10 Tabulasi silang pendidikan dengan kepatuhan kontrol Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Pendidikan
Kepatuhan
Total
Patuh
Kurang patuh
Tidak patuh
f
%
f
%
f
%
f
%
SLTP
SLTA
D3, PT
0
2
1
0
17
14
1
7
5
100
58
72
0
3
1
0
25
14
1
12
7
5
60
35
Jumlah
3
15
13
65
4
20
20
100

3.  Hubungan Pengetahuan Dan Kepatuhan Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan    Kelamin Di RS Haji Surabaya.
Dari hasil penelitian menunjukan hubungan pengetahuan dan kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris, di mana pasien yang memiliki pengetahuan baik dengan patuh kontrol 1 orang (33%) dan kurang patuh kontrol 2 orang (67%), pengetahuan cukup dengan patuh kontrol 1 orang (10%) dan kurang patuh kontrol 9 orang (90%), serta yang berpengetahuan kurang dengan patuh kontrol 1 orang (14%), kurang patuh kontrol 2 orang (28%), dan tidak patuh kontrol 4 orang (57%), untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:
       Tabel 4.11 Tabulasi silang Hubungan Pengetahuan Dan Kepatuhan Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin RS Haji Surabaya, Juni 2005.
Pengetahuan
Kepatuhan
Total
Patuh
Kurang patuh
Tidak patuh
f
%
f
%
f
%
f
%
Baik
Cukup
Kurang
1
1
1
33
10
14
2
9
2
67
90
29
0
0
4
0
0
57
3
10
7
15
50
35
Jumlah
3
15
13
65
4
20
20
100

Dari hasil uji statistik melalui SPSS dengan menggunakan uji korelasi Spearman Rank didapat koefisien korelasi 0,493 dengan nilai probabilitas sebesar p=0,027 dari jumlah sampel 20 pasien dengan taraf signifikan α=0,05.
4.3  Pembahasan
4.3.1 Pengetahuan
       Hasil penelitian menunjukan setengah dari pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RS Haji surabaya memiliki pengetahuan cukup (50%) dan sebagian kecil berpengetahuan baik (15%). Hal ini disebabkan karena informasi yang berikan oleh petugas kesehatan dapat dipahami oleh pasien sehingga akan menambah pengetahuannya mengenai penyakitnya, dan cara pencegahannya.
       Menurut Notoatmodjo (2003) Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek. Namun sebagian besar melalui telinga dan mata. Jadi pengetahuan pasien acne vulgaris pada data diatas mungkin diperoleh melalui media cetak, media elektronik, dan informasi dari petugas kesehatan.    
       Pengetahuan yang adekuat akan memudahkan individu dalam menerima dan menterjemahkan suatu informasi yang diberikan. Hal itu akan menimbulkan pemikiran yang positif pada individu terhadap masalah yang dihadapi. Pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Dari hasil penelitian Rogers (1974) mengatakan apabila penerimaan perilaku baru yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.
Hasil penelitian diatas sekitar 37 % pasien acne vulgaris yang berumur antara 18-21 tahun memiliki pengetahuan kurang. Hal ini menunjukan pengetahuan itu tidak harus dipengaruhi oleh usia, yang menurut teori seseorang yang usianya makin dewasa maka semakin baik pula pengetahuannya, dan sebaliknya. Pengetahuan itu diperoleh dari proses belajar tetapi juga tergantung pada intelligensinnya masing-masing, sehinnga jika usianya dewasa belum tentu intelligensinya tinggi. Pengetahuan dapat juga tidak saja diperoleh dari pendidikan formal tetapi juga bisa didapat dari pengalaman. Menurut Piaget mengatakan pengalaman yang membawa/ menimbulkan challenge akan menstimulasi perkembangan kognitif, sehingga apabila pasien acne mempunyai banyak informasi mengenai penyakitnya maka secara tidak langsung akan menambah pengetahuaannya juga akan membawa dampak pada perubahan perilakunya serta sikap pasien terhadap pengobatannya.
 Hasil penelitian diatas diperoleh 35% wanita yang menderita jerawat memiliki pengetahuan kurang. Hal ini menunjukan bahwa jenis kelamin tidak harus mempengaruhi pengetahuan karena pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman yang pernah dialami. Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek, sehingga apabila infomasi yang diperoleh belum dapat dipahami maka pengetahuan yang diperoleh pasien acne masih kurang dan sangat tergantung bagaimana intelligensinya. 
Dari hasil penelitian diatas didapatkan pasien acne vulgaris yang memiliki latar belakang pendidikan D3/PT sebanyak 29% mempunyai pengetahuan kurang. Hal ini menunjukan pendidikan yang tinggi belum tentu pengetahuannya baik karena bagaimana motivasi pasien dalam menerima dan mengolah infomasi tentang penyakitnya yang diberikan oleh perawat. Menurut Nancy Steveson (2001­) mengatakan motivasi adalah semua hal verbal, fisik/psikologis yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respon, sehingga bagaimana motivasi pasien acne dalam memahami dan menerima informasi tentang penyakitnya dan apabila informasi tersebut kurang dipahami maka pengetahuan yang diperoleh mengenai penyakitnya dan pengobatan juga kurang (Sunaryo, 2004).
4.3.2 Kepatuhan
       Hasil penelitian menunjukan sebagian besar pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RS Haji surabaya memiliki tingkat kepatuhan kurang (65%) dan sebagian kecil memiliki tingkat kepatuhan baik (15%), sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan adanya tingkat kepatuhan yang kurang akan mengakibatkan bertambah parahnya penyakit yang diderita dan akan memperpanjang lama pengobatan.
        Menurut Dan La Greca & Ston (1990) mengatakan bahwa menaati rekomendasi dokter merupakan masalah yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena tingkat kepatuhan terbukti cukup tinggi dalam seluruh populasi medis yang kronis sehingga akan mengakibatkan resiko berkembangnya masalah kesehatan atau memperpanjang atau memperburuk kesakitan yang diderita. Maka disini diperlukan peran dari petugas kesehatan untuk memberikan motivasi, dan meyakinkan pasien yang gagal berobat untuk patuh terhadap anjuran atau nasehat dokter.
         Dari hasil penelitian lain mengatakan bahwa kepatuhan itu terjadi jika didasari oleh adanya kesadaran seseorang terhadap anjuran tim medis. Hal ini berarti dengan adanya kesadaran untuk patuh kontrol yang baik maka upaya pengobatan yang dilakukan juga maksimal dan sebaliknya kesadaran untuk patuh kontrol kurang maka upaya pengobatan juga tidak akan maksimal.
Dari hasil penelitian diatas menunjukan 21% pasien acne vulgaris yang berumur 18-21 tahun tidak patuh kontrol. Dalam hal ini faktor umur dapat mempengaruhi kepatuhan tetapi kepatuhan dapat dipengaruhi oleh perilaku. Menurut Loder, sekakin muda usianya semakin kurang penyesuaian diri terhadap informasi yang diberikan dan sebaliknya, sehingga kepatuhan kontrol pasien acne tidak dipengaruhi oleh umur tetapi bagaimana perilaku dan sikapnya terhadap anjuran dokter. Dan menurut Lowrence Grean bahwa perilaku kepatuhan itu dipengaruhi oleh sikap, lingkungan, sikap dan perilaku petugas kesehatan, sehingga apabila umurnya sudah dewasa tetapi perilakunya dan pengetahuannya kurang maka kepatuhan kontrol pasien acne kurang, akibatnya hasil pengobatan tidak maksimal.
Sekitar 21% wanita dengan acne vulgaris tidak patuh kontrol karena mereka menganggap mampu mengatasi masalahnya sendiri menurut cara yang mereka yakini, sehingga penyelesaiannya tidak sesuai dengan harapan mereka. Selain itu banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain biaya pengobatan, jarak rumah, kesibukan kuliah dan bekerja sangat mempengaruhi kepatuhan kontrol pasien acne. Menurut Ana Freud banyak kegagalan yang sering kali disertai akibat yang tragis, bukan karena ketidakmampuan individu, tetapi karena mereka tidak mampu mengatasi masalah yang mereka hadapi itu, sehingga pasien acne menganggap penyakitnya dapat sembuh dengan sendirinya dan memakai cara mereka sendiri.
Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi tidak semua pasien memiliki kepatuhan yang baik. Hal ini terbukti 25% dengan pendidikan SLTA dan 14% dengan pendidikan D3/PT tidak patuh kontrol, sehingga walaupun pendidikannya sarjana tetapi motivasi terhadap anjuran dokter kurang maka akan mempengaruhi kepatuhan kontrol pasien. Menurut Suwarno S.W. (2000), mengatakan menunjuk pada proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong, yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir dari pada perbuatan. Dalam hal ini menunjukan bahwa motivasi juga berpengaruh terhadap kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin RS Haji Surabaya, selain itu banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Jadi motivasi sangat penting karena dengan motivasi yang baik maka pengobatan yang dijalani akan memperoleh hasil yang maksimal, dan sebaliknya (Sunaryo, 2004) 
4.3.3  Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Kontrol
       Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa sebagian besar pasien acne vulgaris memiliki pengetahuan cukup dengan kurang patuh kontrol sebanyak 90%, dan sebagian kecil berpengetahuan cukup dengan patuh kontrol sebanyak 10%. Hal ini akibat adanya perbedaan pengalaman dan kesadaran sehingga anjuran untuk patuh kontrol tidak dilaksanakan dengan baik. Peneriman perilaku baru yang didasari oleh kesadaran akan bersifat langgeng sehingga meskipun tingkat pengetahuannya baik namun kesadarannya untuk patuh kontrol kurang maka upaya pengobatan yang dilakukan juga tidak akan maksimal (Notoatmodjo, 1990). Dari data diatas pengetahuanya baik tetapi kurang patuh kontrol sebanyak 2 orang (67%), hal ini akibat perbedaan pengalaman dan kesadaran sehingga anjuran untuk patuh kontrol tidak dilaksanakan dengan baik. Sebaliknya pengetahuan kurang tetapi patuh kontrol sebanyak 1 orang (14%), ini disebabkan karena adanya kesadaran dari pasien terhadap anjuran dokter.
       Dengan menggunakan uji korelasi spearman rank didapatkan Rs hitung:0,493 dengan nilai probabilitas sebesar p:0,027 dengan taraf signifikan α:0,05, selanjutnya diperoleh nilai p lebih kecil dari α maka Ho ditolak sehingga keputusannya ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris dipoli kulit dan kelamin RS Haji Surabaya tahun 2005. Tingkat variabel tersebut adalah Rs:0,493 dimana ada hubungan yang positif antara pengetahuan dan kepatuhan kontrol. Hal ini semakin baik pengetahuan pasien maka semakin baik pula tingkat kepatuhannya dan sebaliknya semakin kurang pengetahuannya semakin kurang tingkat kepatuhannya.
Lowrence Grean di kutip Notoatmodjo (2003), menyatakan bila seseorang telah melewati tahap tingkat pengetahuan dengan baik secara tidak langsung akan terbentuk suatu perilaku yang baru. Kepatuhan kontrol disini diperlukan sekali dalam penyembuhan penyakitnya yang ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, fasilitas, sarana, sikap dan perilaku petugas kesehatan yang akan mendukung terbentuknya perilaku baru maka dibutuhkan sekali dukungan keluarga terutama dalam memberikan motivasi untuk patuh kontrol selain itu perlu juga adanya dukungan dari petugas kesehatan untuk meyakinkan pasien agar datang berobat secara teratur sesuai anjuran dokter.




BAB 5
                 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
       Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta keterangan pada bab sebelumnya maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.       Setengah dari pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin memiliki pengetahuan cukup, dan sebagian kecil berpengetahuan kurang dan berpengetahuan baik.
2.       Sebagian besar pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin   memiliki tingkat kepatuhan kurang, dan sebagian kecil tidak patuh dan patuh kontrol.
3.       Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan kontrol pasien acne vulgaris di poli kulit dan kelamin  .
5.2 Saran
1.      Bagi instansi
Diharapkan pelayanan kesehatan melibatkan pasien dalam proses penyembuhan serta memberikan pendidikan kesehatan dan konseling pada pasien.
2.   Bagi pasien
Pasien diharapkan untuk patuh terhadap pengobatan dan perawatan yang sedang dijalani sesuai dengan anjuran tim medis.
3.  Bagi perawat                                                                                      
34
 
Perawat diharapkan mampu memberikan informasi kepada pasien tentang penyakitnya dan memberikan pendidikan kesehatan.


DAFTAR PUSTAKA




Alimul, Aziz, 2003, Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Jakarta, Salemba Medika

Bastable, Susan B, 2002, Perawat Sebagai Pendidik: prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran, Jakarta, EGC

Djuanda, Adhi, 1999, Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi 3, Jakarta, Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia

Harahap, Marwali, 2000, Ilmu Penyakit Kulit, Jakarta, Hipokrates.
Nursalam, Siti Pariani, 2001, Metodologi riset keperawatan, Jakarta, CV Seto Agung.

Nevin, Neil, 2002, Psikologi Kesehatan: pengantar untuk perawat dan professional kesehatan lain, Jakarta, EGC

Notoatmodjo, Soekidjo, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta, Rhineka Cipta.

             , 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta, Rhineka Cipta

             , 2003, Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan, Jakarta, Rhineka Cipta

Smeat, Baart, 1994, Psikologi Kesehatan, Jakarta, Gramedia Widasarana Indonesia

Stein, Beth G., 2001, Dermatologi Praktis, Jakarta, Hipokrates

Sugiyono, 1999, Statistik Untuk Penelitian, Bandung, CV. Alfabeta
Sunaryo, 2004, Psikologi untuk keperawatan, Jakarta, EGC.





Lampiran 1

Peryataan menjadi responden penelitian
      Dengan ini saya yang bernama: xxx, mahasiswa program studi keperawatan soetomo Surabaya akan melakukan penelitian yang berjudul Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Kontrol Pasien Acne Vulgaris Di Poli Kulit Dan Kelamin.
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan Pasien tentang jerawat dan kepatuhan tentang berobat.
Untuk keperluan diatas saya mohon kesediaan anda untuk mengisi lembar kuesioner atau daftar pertanyaan yang telah saya siapkan. Saya harap untuk menjawab pertanyaan dengan sejujur- jujurnya sesuai dengan apa yang anda ketahui. Untuk itu lembar peryataan ada harap diisi dengan inisial saja, demikian juga alamatnya harap diisi dengan nama daerah asal saja. Saya jamin kerahasian identitas dan pendapat anda sekalian.
Sebagai bukti kesedian menjadi responden dalam penelitian saya mohon kesedian untuk menadatangani lembar pengisian yang telah saya persiapkan.
Partisipasi anda dalam mengisi lembar kuesioner ini sangat saya hargai dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
                                                                                   Surabaya,…….Juni 2005
                                                                                               Hormat saya

                                                                                                         



Lampiran 2




                                                                                                Kode responden


Peryataan sebagai responden
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya
Nama:
Alamat:
Menyatakan kesediaan untuk turut berpartisipasi sebagai responden penelitiaan yang dilaksanakan oleh mahasiswa D III Program Studi Keperawatan Soetomo Surabaya yang berjudul “HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN KONTROL PASIEN ACNE VULGARIS”.
Tanda tangan saya di bawah ini menunjukan bahwa saya telah di beri informasi yang sejelas-jelasnya dan saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

                                                                        Surabaya,     Juni 2005
Peneliti                                                                        Responden

   
     (      Sutrisno     )                                                            (                             )
        NIM. 021211


Lampiran 3



KUESIONER PENELITIAN


HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN
KONTROL PASIEN ACNE VULGARIS



No Responden            : 
Umur                :
Jenis kelamin   :
Pendidikan       :
                       
Petunjuk pengisian :
1. Baca dengan teliti setiap pertayaan sebelum memberikan jawaban.
2. Berikan jawaban yang benar dengan cara memberi tanda √


A. Pengetahuan
     1. Jerawat adalah
Peradangan kronik pada kulit ditandai dengan adanya komedo dan kemerahan pada kulit.
Penyakit kulit yang sering terjadi pada remaja.
Timbulnya benjolan kecil pada kulit.
     2. Jerawat timbul di daerah
    Punggung, dada.
Muka, bahu.
Kedua jawaban benar.

3.   Faktor- faktor yang menyebabkan jerawat adalah
       Bakteri, kosmetik
                   Keringat
Virus
4.   Yang bukan merupakan faktor penyebab jerawat adalah
Sebum/lemak kulit
Hormon.
Makanan pedas.
5.   Gejala-gejala jerawat meliputi
Adanya komedo, benjolan kecil di muka.
Timbulnya bercak- bercak pada kulit.
Kedua jawaban benar.
6.   Bakteri yang menyebabkan Jerawat adalah

Coribacterium acnes

E. coli

Stapilokokus.
7. Apakah pemakaian kosmetik yang berlebihan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan jerawat
Ya
Tidak
  8.    Cara-cara mencegah jerawat meliputi
Diet rendah lemak dan karbohidrat
Memakai kosmetik
Memakai lotion pemutih
9.  Cara menghindari faktor pencetus jerawat adalah
       Istirahat cukup, olah raga, hindari stres
Penggunan kosmetik berlebihan
Melakukan diet               
     10.  Bila sembuh, jerawat akan meninggalkan bekas seperti
Adanya kemerahan & kehitaman pada muka
Timbul jaringan parut
Kedua jawaban benar
     11.  Hormon yang mempengaruhi jerawat adalah
Progesteron
Tostesteron
Androgen
12. Memanipulasi/ melakukan pemencetan pada jerawat dapat mengakibatkan
Timbulnya jaringan parut
Terjadi peradangan
Jerawat akan sembuh
13. Tujuan pengobatan secara topikal (pemberian salep, krim) adalah
Mencegah peradangan dan mempercepat penyembuhan luka
Mencegah timbulnya jaringan parut
Mempengaruhi keseimbangan hormonal
14. Tujuan pengobatan secara sistemik (pemberian obat anti bakteri) adalah
              1   Mempengaruhi keseimbangan hormonal
.      Mengurangi pembentukan komedo
       Mencegah timbulnya jaringan parut
      15. Obat yang sering di pakai dalam pengobatan jerawat adalah
Salep/ krim
Antibiotik
Atau kedua-duanya
       16.Apakah musim dingin mempengaruhi jerawat
Ya
Tidak
       17.Yang bukan merupakan factor pencetus jerawat adalah
Polusi udara
Bakteri
                  Stress
       18.Faktor utama penyebab jerawat adalah
Polusi udara
Bakteri
                  Sebum

        19.Faktor internal yang menyebabkan jerawat adalah
Hormonal
Bakteri
                  Polusi udara
         20.Faktor eksternal yang menyebabkan jerawat adalah
Hormonal
Stress
                  Sebum